Rabu, 02 Januari 2013

Gegap Gempita Dunia Malam Mahasiswi


Sebut saja namanya Fenny Lestari yang merupakan mahasiswi jurusan pendidikan fisika angkatan 2010 di salah satu universitas terkenal di Bandung. memang bila kita melihat kemolekan dari rupanya yang memang sangat ayu khas priangan karena memang berasal dari daerah Tasikmalaya. Fenny ini memang selain cantik rupanya juga memiliki anugerah lain yaitu suaranya yang sangat bagus untuk kita dengar.
Keunggulan akan rupa dan suara yang bagus ini memang dimanfaatkanya untuk menjadi seorang penyanyi di salah satu cafe yang biasanya beroperasi pada malam hari. nah sekitar pukul 22.00 WIB biasanya Fenny berangkat menuju kerjanya yang ada di pusat kota Bandung. memang tempat kerjanya ini biasanya menjemput para biduan wanitanya untuk sampai ke tempat kerjanya. sebelum subuh biasanya fenny sudah pulang dari tempat kerjanya sebagai biduan yang melayani para pengunjung dengan suara merdunya ini.
Di balik dari penyaluran hobinya sebagai biduan di salah satu cafe tempat ia bekerja, namun banyak seletingan kabar yang menyebutkan bahwa selain dari kegiatan bernyanyi di cafe tersebut, ternyata ada kerja plus dengan bayaran yang menggiurkan. tentu saja kerja plus ini tidak jauh dari kegiatan pemuas nafsu dari para pengunjung cafe yang memang haus akan seks. bahkan gosip tentang fenny yang pernah menggugurkan kandungannya pun pernah menjadi gosip heboh di kelasnya berkuliah dan juga tetangga-tetangga kosan dekat fenny tinggal.
Sungguh ironis memang hal yang terjadi dengan keadaan seperti sekarang ini seperti mahasiswa yang seharunya dipercayai oleh orang tuanya untuk mengenyam bangku kuliah agar bisa membanggakan orang tua dan berguna bagi bangsa, malah banyak yang melakukan kegiatan negatif yang akan merugikan dirinya sendiri serta orang tuanya.( ditulis oleh Munandar)

Fenomena Dunia Gemerlap Mahasiswi UPI



Penulis: Imay Ifdlal Fahmy*

Ilustrasi
Dini hari itu suara dentuman musik “Party Dance” terasa begitu menggetarkan gendang telinga dan memecahkan kesunyian malam kota Bandung. Pemuda maupun pemudi aysik masyuk dengan musik yang diracik oleh sang Disk Jockey (DJ) disertai tarian-tarian khas dunia gemerlap. Suara gelas yang berisi minuman beralkohol pun beradu membuat suara gemerincing mengiringi musik yang membuat tubuh seakan terhipnotis untuk ikut bergoyang.
Ya, sebut saja namanya Bunga. Seorang gadis yang masih tercatat sebagai mahasiswi yang berkuliah di kampus yang terkenal akan  label pendidikannya, Universitas Pendidikan Indonesia. Ia bersama kedua kawannya, sebut saja melati dan mawar, tampak tak canggung lagi untuk menikmati musik racikan DJ dengan goyangannya. Di sebuah tempat hiburan malam, di jajaran pusat perbelanjaan di jalan Sukajadi itu, mereka melepas beban.
Hal seperti ini memang bukan hal yang baru bagi mereka. Karena mereka sering mendatangi klab-klab malam  hanya untuk kesenangan semata. Ketika mereka dipusingkan dengan tugas kuliah yang rumit, atau mungkin karena gejolak jiwa muda yang sedang merasa “galau”  dengan pasangan  masing-masing, maka pelariannya adalah mendatangi tempat-tempat tersebut untuk mengusir jemu.
“Dulu mah pertama kali diajakin sama temen. Katanya ada GL** atas nama si itu, jadi bisa masuk gratis. Awalnya saya masih canggung, tapi lama-kelamaan ketagihan juga dan jadinya sering weh ke tempat seperti ini.” ujar Bunga. Begitu pun dengan Melati dan Mawar. Mereka pertama kali diajak oleh Bunga dan temannya itu untuk ikut bersama  menikmati dunia malam Bandung.
“Biasanya kalo tempat hiburan yang banyak didatangi mahasiswa itu yang di daerah Cihampelas dan Sukajadi. Dan hari kamis malam jumat itu yang paling ramai, karena temanya itu Ladies Night” tutur Bunga yang diamini juga oleh Mawar dan Melati. Memang di tempat hiburan malam tertentu memiliki tema agar dapat menarik perhatian pengunjung terutama pengunjung wanita. Dengan begitu, maka para pengunjung pria pun banyak yang datang sehingga membuat tempat hiburan itu semakin ramai. Tak jarang sebuah tempat hiburan mengundang artis atau DJ dari luar negeri ketika sedang mengadakan “event”tertentu.
Banyak hal yang telah dilalui oleh Bunga dan teman-temannya ketika menikmati hobinya pergi ke tempat hiburan malam. Terkadang, banyak lelaki nakal yang menggoda mereka. Tak jarang juga mereka diajak “om-om” atau bahkan pemain sepakbola yang mendatangi tempat hiburan malam tersebut untuk ikut bersama mereka yang lebih pantas dianggap sebagai bapak atau kakak. Untungnya, mereka dapat menolak secara halus ajakan dari para lelaki tersebut karena mereka ke tempat hiburan malam hanya untung bersenang-senang dan mengusir kebosanan.
Lalu, pantaskah seorang calon pendidik mendatangi tempat-tempat seperti itu? Memang pertanyaan seperti ini mungkin sempat terlintas jika melihat sosok Bunga yang merupakan mahasiswa pendidikan dan calon panutan dari anak muridnya nanti. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh gaya hidup hedonisme yang mendewakan kesenangan dan hura-hura semata. Sementara itu, kontrol dari orang tua yang kurang karena kebanyakan dari mahasiswa itu indekos dan jauh dari rumah. Hanya pengendalian diri dan iman yang kuat yang dapat mencegah untuk berbuat lebih jauh lagi seperti seks bebas dan pemakaian obat-obatan terlarang.  Seseorang yang telah masuk ke lingkungan seperti itu akan mudah terjerambap ke gerbang keburukan.
Tapi akhir-akhir ini saya mengurangi kegiatan dugem***, karena semakin lama saya melakukan hal ini membuat saya berpikir bahwa hal seperti ini tidak dapat saya lakukan selamanya. Apalagi saya ini calon pendidik yang harus memberi contoh kepada anak murid saya nanti. Saya juga akan lebih fokus lagi kuliah agar tidak mengecewakan orang tua yang telah membiayai saya ”. Ungkap Bunga dengan nada agak menyesal.
Memang, hidup itu sebuah pilihan. Pilihannya itu seperti dua sisi mata uang. Disatu sisi mengarah ke kebaikan. Sisi lainnya mengarah ke keburukan. Akan tetapi, sebenarnya fitrah manusia seperti yang sudah digariskan oleh tuhan Yang Maha Esa itu adalah berbuat kebaikan. Hal-hal yang mempengaruhi untuk berbuat keburukan bisa datang dari lingkungan dan teman-teman dekat. Maka dari itu, perhatian dari orang tua, kasih sayangnya, dan juga pengawasannya dapat optimal sehingga anak-anak seperti ini bisa mempunyai gaya hidup yang “sehat”.
*Penulis, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2009
**Guest list: daftar tamu yang diundang sehingga masuk ke tempat hiburan malam tidak dikenakan biaya (gratis) dengan menyebutkan nama orang yang memberi GL
***Dunia gemerlap

Gunung Putang



Lambaian Alam dan Pesona Sejarah


Fenomenal karena antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter

Bandung heurin ku tangtung”. Begitulah gambaran Bandung masa kini. Industri di Bandung semakin masif menggerus areal pesawahan, pertanian dan perumahan penduduk. Namun, Bandung masih menyisakan gunung-gunung indah di bagian tubuhnya yang lain. Gunung Puntang adalah salah satunya.
Gunung Puntang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang dikelola Perhutani. Udara yang sejuk pada ketinggian 1290 m, sungai yang jernih ditambah dengan paduan pohon pinus yang tumbuh alami, memberikan kedamaian tersendiri. Keindahan panorama sekitar kawasan ini sudah bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Terlebih saat memasuki persimpangan jalan Banjaran-Pangalengan dan jalan Gunung Puntang. Saat tiba di gerbang Perhutani, sempatkan waktu berhenti sejenak untuk melihat hamparan Plato (lempengan) Bandung dari ketinggian.
Wisata Alam
Daerah Bandung Selatan masih mempunyai sebuah objek wisata bersejarah yang cukup unik di Gunung Puntang. Bila Anda sudah bosan berkunjung ke Ciwidey yang terkenal dengan objek wisata Kawah Putih dan Situ Patenggang-nya. Atau jenuh berkunjung ke Pengalengan, tidak ada salahnya mencoba berkunjung ke kawasan ini.
Untuk masuk ke areal perkemahan, dikenakan biaya yang relatif murah. Tiket perorangan 5000 rupiah per hari, sewa lahan per 3 orang 2500 rupiah, sepeda motor 1000 rupiah, sedan/minibus 3000 rupiah sedangkan bus/truk 5000 rupiah. Selain berkemah, aktifitas-aktifitas outdoor seperti forest tracking atau sekadar main air di kali yang jernih dapat menjadi pilihan. Curug Siliwangi, sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dapat menjadi target alternatif. Perjalanan dapat ditempuh selama 2 jam menembus hutan. Untuk mencapai lokasi Curug Siliwangi ini, sebaiknya menggunakan jasa pemandu arah setempat agar tidak tersesat.
Bumi Perkemahan Gunung Puntang masih dikelola secara swadaya. Masyarakat memegang penuh atas kepengurusan Gunung Puntang walaupun status tetap berada di tangan Perhutani. “Ya kan Gunung Puntang ada di daerah kami, sudah tentu menjadi kewajiban kami untuk mengurusnya”, ujar Aki Inan selaku juru kunci Gunung Puntang. Beberapa fasilitas penting sudah tersedia. MCK, rumah kecil milik Perhutani (cabin) yang bisa disewa, dan yang paling penting Anda masih bisa memanfaatkan aliran listrik.
Masih di area Gunung Puntang, saat ini terdapat sebuah fasilitas rekreasi yang tidak kalah menarik, Taman Bougenville. Di area ini terdapat 3 villa, 2 kolam renang, tempat bermain anak dan lokasi ini dialiri beberapa stream sungai kecil yang sangat jernih airnya. Kolam renang yang ada memanfaatkan air gunung yang langsung dialirkan dari sumbernya. Dan yang lebih penting, air jernih yang masuk ke kolam adalah air alami. Penyaringan alami berupa ijuk adalah rahasia tetap terjaganya kealamian air kolam.
Berbeda dengan Bumi Perkemahan, Taman Bougenville dikelola pihak swasta. Untuk masuk ke lokasi ini kita harus juga membeli tiket masuk seharga Rp7500,00. Vila-vila yang ada  bisa disewa dengan tarif dari 700 ribu sampai 800 ribu rupaih. Jika berminat untuk menyewa seluruh lokasi beserta semua fasilitas yang ada dikenakan biaya sebesar 4 juta rupiah sehari.
Ditemui di kantornya (18/11) Andi Subagyo, selaku Kepala Pengelola Fasilitas Taman Bougenville, menyatakan, “Penggunaan ijuk sebagai filter sebenarnya karena tuntutan masyarakat di sini. Masyarakat tetap ingin area gunung tetap asri dan alami”. Memang meskipun taman ini sekarang sudah ada di tangan pengelola swasta, tapi beberapa aturan yang diajukan masyarakat tetap harus ditaati. “Memang sih kita punya kewenangan, tapi kan kita berada di kawasan masyarakat di sini, jadi ya kita ikuti aja apa yang diinginkan masyarakat, supaya bisa terjalin hubungan yang baik”, tambah Edi.
Wisata Sejarah
Tidak hanya menawarkan wisata alam yang menyejukkan hati, di kawasan Gunung Puntang juga terdapat beberapa objek wisata sejarah peninggalan bangsa Belanda. Bersama Udin Supriadi (11/11) selaku Kepala Pusat Informasi kami menuju area Kolam Cinta. “Pada tahun 1923 area ini merupakan suatu lokasi yang sangat terkenal di dunia karena terdapat sebuah stasiun pemancar radio Malabar yang dirintis oleh Dr. Van De Groot”, tutur Udin. Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal pernah digunakan di area ini. Fenomenal karena antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter.
Gedung radio pemancar ini bentuknya sangat cantik di masa itu. Sayangnya, saat ini bangunan tersebut hanya tersisa beberapa potong tembok saja, dikarena struktur bangunannya yang terbuat dari separuh kayu dan separuh tembok. “Ya, ini sisa-sisa bangunan yang ada. Sebagian besar bangunan dirusak warga saat kemerdekaan. Warga berlomba datang ke sini bukan hanya menghancurkan, tapi juga berlomba mengambil besi yang ada untuk dijual”, tambah Udin. Selain sepotong sisa bangunan tadi, ada juga sisa struktur dinding kolam yang saat ini dikenal dengan nama Kolam Cinta. Konon, jika sejoli berpacaran di lokasi ini akan membawa dampak bagi kelangsungan hubungan mereka. Kalau mau mendaki, sisa-sisa antena juga masih bisa dilihat dilereng gunung.
Masih di lokasi yang berdekatan, tedapat bekas kompleks rumah pejabat Belanda. Lagi-lagi yang tersisa hanya puing-puingnya. Setiap lokasi rumah itu telah dilabeli nama-nama pejabat Belanda yang dulunya menempati rumah itu. Meski di lokasi ini yang bisa dilihat hanya reruntuhan dan pondasi-pondasi rumahnya, tapi bayangan akan kemegahan dan kekokohan rumah-rumah itu di zamannya tidak dapat dihilangkan dari pandangan mata. Beberapa tempat lapang, pagaran pohon hijau, dan bentukan rumah Belanda bisa dinikmati sepuasnya. Ditambah lagi desiran angin sepoi membuat tubuh merasakan kesegeran udara pagi yang dengan bebas menembus kulit dan paru.
Masih di lokasi yang sama, di bawahnya ada jalan setapak menuju Gua Belanda. Pengunjung bisa masuk ke gua dengan menyewa lampu minyak atau patromak. Anda bisa menyewa jasa pemandu jalan yang berjaga di pintu masuk gua. Inilah gua Belanda, gua dengan muka bertampang mulut harimau menganga. Gua ini mempunyai jalur yang beraneka tujuan. Bahkan, ada jalur yang menembus Pangalengan, Garut, Cisewu, dan Gunung Nini. “Ada banyak jalur di dalam gua, tapi sudah pada ditutup karena khawatir pengunjung yang tidak tahu, malah tersesat”, jelas Udin. Ketika masuk gua kita seakan diajak masuk ke perut gunung yang dingin dan kelam. Gemericik tetesan air dari akar pohon yang menembus atap gua memberikan kesan dan ketenangan tersendiri. Tetesan-tetesan air yang menyentuh dasar gua terdengar begitu asri dan menenangkan hati. Perjalanan menyusuri gua bisa diselesaikan dengan rentang waktu sekitar 15 menit. (Mahmud Ramdhani/0906579)