Rabu, 02 Januari 2013

PERNIKAHAN JADI ALASAN PINDAH AGAMA




Menjalani Biduk Pernikahan
Pernikahan merupakan awal di mana manusia mengukur seberapa besar tingkat kedewasaannya menjalani kehidupan. Banyak orang ragu untuk mengambil sebuah sikap tegas tentang pernikahan. Pergelutan hati antara rasa sayang dan takut mengambil sikap. Mempersiapkan diri mempunyai momongan, berarti biaya hidup bertambah sedangkan hidup pas-pasan. Harus mempunyai kesiapan untuk melepaskan kebebasan, dimana yang biasanya hang out dengan teman-teman sekarang harus memikirkan anak istri di rumah. Dari sekian banyak orang, ada juga yang berani mengambil sikap mengenai pernikahan. Sikap yang siap menerima semua yang akan muncul setelah menikah nanti harusnya di acungi jempol. Selain pernikahan, perceraian pun sangat marak terjadi di Indonesia. Menikah baru beberapa bulan, langsung cerai. Kalau kata Syaharini  ”Cetar membahana”. Pernikahan yang miris sekali.
Sedikit menyentil pandangan, sebenarnya pernikahan itu apa sih? Apakah perjanjian hitam diatas putih atau sebuah penjanjian sehidup semati dan Tuhan menjadi saksi. Indah sekali, apabila pernikahan itu sebuah perjanjian suci yang tidak bisa dipisahkan oleh siapapun kecuali maut. Janji sehidup semati menjalani bahtera rumah tangga baik suka maupun duka. Pernikahan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele, karena tidak ada kecocokan langsung cerai. Itulah pernikahan.

Pindah Agama Karena Pernikahan
Tadi sudah berpanjang lebar merumuskan pernikahan. Sekarang sedikit menyenggol mengenai pernikahan yang menjadi alasan pindah agama. Sebagian orang menganggap sakral membicarakan sebuah agama. Mereka  berpikir bahwa agama merupakan pegangan atau pedoman hidup yang dijaga hingga akhir hayat. Didalam tulisan ini, tidak akan membahas mengenai perbedaan pandangan mengenai arti agama. Tulisan lebih melihat pandangan mengenai Pernikahan suatu bentuk legalitas untuk pindah agama. Mempertanyakan tentang keyakinan sesorang yang berpindah hanya karena alasan pernikahan. Sebelum itu ada sedikit cerita mengenai sebuah keluarga kecil dimana suami istri terbut awalnya berbeda agama. Setelah menikah si istri mengikuti agama sang suami. Mungkin cerita ini salah satu dari ribuan cerita yang sama mengenai pindah agama.
          Pada awalnya mereka bertemu di stasiun di daerah Depok. Betapa lucu pertemuan mereka, sesorang wanita dengan tergesa-tegas mengejar keterlambatannya. Dari jauh seorang pria melihat gerak geriknya. Pria tersebut dengan berani mempertanyakan kemana si wanita itu akan pergi. Seperti gayung tersambut, jurusan kereta yang diambil mereka berdua sama daerah Bogor. Mereka bercengkrama memperkenalkan dirinya masing-masing. Dari hari ke hari semua berjalan dengan semestinya, sampai akhirnya lelaki mengetahui status agama yang diyakini wanitanya. Si pria dengan taatnya meyakini agama Islam dan si wanita yang juga taat meyakini agama Katolik. Kendala yang cukup besar untuk dijalani keduanya. Banyak pertimbangan yang terjadi, bagaimana meyakini kedua orangtua mereka untuk menerima pasangan mereka. Tapi dengan keyakinan yang kuat lelaki dengan berani dan tegas berkata dalam hatinya bahwa wanita yang berdiri dihadapannya sekarang ini akan menjadi istri dan menjalani biduk pernikahan dengan dirinya. Resiko apapun itu akan dihadapi. Pilihan cuma satu apakah salah satu dari mereka mengalah atau mereka berpisah karena mempertahankan keyakinannya. Bukan main bukan? Seperti sinetron saja ceritanya, tetapi ini benar-benar terjadi di realita kehidupan yang sebenarnya.
Salah satu dari mereka berdua berkorban untuk pasangannya. Pada akhirnya dengan langkah berani si wanita mengambil keputusan untuk pindah agama. Perdebatan keluarga masing-masing pasangan tak bisa dihindari lagi. Keyakinan yang penuh sang ayah dari wanita tidak merestui pernikahan mereka. Menolak keras, beliau merasa kecewa dengan keputusan sang anak yang selama ini dibesarkan dan di didik. Entah apa yang terjadi seiring berjalannya waktu, luluh tembok hati yang tinggi sang ayah. Kebahagian anaknya melebihi apapun juga. Pernikahan pun berlangsung dengan status mempelai wanita telah pindah agama mejadi seorang muslim (mualaf).  
Cerita belum selesai, sekarang pertanyaanya apa si wanita dapat menjalani kebiasaannya terdahulu berubah setelah pindah agama. Kebiasaan kegereja setiap hari minggu diganti dengan sholat 5 waktu  di setiap hari. Setelah panjang lebar berbicara dengan Theresia (30), Tres akhirnya mau menceritakan sedikit tentang kehidupannya setelah dia pindah agama. Tres mengatakan “Bayangin deh seandainya mbak yang jadi aku? Semua  berubah 360 ketika mbak memutuskan untuk mengubah keyakinan yang sudah 20 tahun menemani diri mbak” Ketika mendengar ini, penulis sedikit terenyuh. Entah apa yang akan terjadi kalau penulis berada diposisi tersebut. Mungkin penulis tidak kuat untuk menghadapinya. Semua  terjadi karena hati wanita itu belum siap menerima semuanya. Ini terbukti dari pernyataan yang berupa “Sebenarnya saat ini saya masih belom bisa sholat 5 waktu ama baca Al-quran, entah kenapa kalau tidak ada suami saya tidak sholat. Bukan karena saya tidak ingin, saya sangat ingin melakukannya tapi kesibukan saya mengurus tiga anak yang masih kecil membuat saya lupa untuk sholat”. Satu hal yang dapat diambil dari pernyataan tesebut adalah ketika kita mengambil keputusan besar yang mungkin dapat merubah semua kehidupan, kita harus siap dengan semua perubahan yang terjadi dan berani mempertangungjawabkan semua. Bukan saatnya untuk menyalahkan, tapi sebaliknya lihat apa yang ada dibalik semua ini, mengapa dia bisa seperti itu? Kita doakan saja semoga hatinya tidak ragu lagi dengan agama yang diyakini sekarang.
Dapat dilihat bahwa orang yang menikah dan berpindah agama tidak semuanya benar-benar dari keimanannya yang juga ikut berpindah. Tapi hanya sebatas untuk mendapatkan secarik kertas bernama surat nikah. Apa alasan pernikahan dapat dijadikan alasan? Tidak, sebaiknya kalau pindah agama harus dari hatinya terlebih dahulu. Sebelum menikah harus memantapkan hati biar tidak bimbang pada akhirnya. Sebenarnya kalau membicarakan agama itu bawaannya agak sensitif terlalu rawan dibicarakan. Saat kita berbicara ini mungkin berbeda dengan pengertian dari yang lain. Tapi satu yang penulis tahu, bahwa yang kita hormati dan yang selalu kita mohon pertolongannya saat kita kesusahan dalam doa adalah Sang Pencipta Yang Maha Besar. Walaupun kita berbeda tata cara berdoanya tapi doa yang dihujukkan hanya untuk NYA. Iya tidak??

Biodata Penulis
Nama           : B. Dinar Anggia (0906839)
Email           : benedictadinar@gmail.com
Jabatan       : Mahasiswa Jurursan Bahasa dan Sastra Indonesia  UPI
                    “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpimu”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar