Rabu, 02 Januari 2013

Sisi Lain Hamil di Luar Nikah*)






Pernikahan hakikatnya adalah sebuah impian bagi setiap pasangan, dengan menikah maka setiap pasangan memiliki impian untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmamah. Selain bertujuan untuk menyempurnakan sebagian dari agama, menikah pun merupakan salah satu cara untuk memiliki sebuah generasi penerus yang lebih baik. Namun, apa jadinya jika kita menikah karena terpaksa? Pada kali ini pernikahan yang paksa, bukan berarti karena dijodohkan atau hal yang sejenisnya, namun lebih kepada keadaan yang memaksa.


Hamil di luar nikah, atau Married by Accident. Kalimat itu nampaknya saat ini telah cukup akrab di telinga kita. Saat ini fenomena hamil di luar nikah bukanlah hal yang aneh, tabu atau bahkan sesuatu yang salah. Entah dikarenakan keadaan zaman yang mengalami demoralisasi atau penurunan moral, atau karena zaman kian menjauh dari nilai-nilai dan moral agama, sehingga saat ini banyak sekali pasangan yang masih berstatus pacaran berani melakukan hal-hal yang merupakan bagian dari hak dan kewajiban suami istri. Ketika banyak sekali terjadi kasus seperti ini, lantas siapakah yang bersalah? Lalu bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Tak merasa dosa atau hal yang lainnya kah?Penulis mewawancarai salah seorang sumber yang menikah karena hamil terlebih dahulu, ia berusia 20 tahun. Sebut saja namanya AJ. Ketika ditanyakan bagaimana rasanya menikah muda, ia menjawab. Jika menikah itu tidaklah seperti yang dibayangkan. Pernikahan membutuhkan persiapan yang matang, tanpa adanya kematangan, mungkin saja pernikahan itu menjadi tak bermakna, seperti dirinya yang memang menikah karena terpaksa mengatakan bahwa ternyata menjadi ibu rumah tangga itu tanggung jawabnya besar, banyak hal yang harus diuurus, dari A sampai Z. Semuanya harus dilakukan. Andai saja ia tak memiliki kejadian MBA mungkin dia juga tak akan mau menikah muda.

Lalu, ketika ditanyakan kenapa bisa melakukan hubungan suami istri, Ia hanya menjawab, karena kasihan, selain faktor cinta tentunya. Penulis mengetahui bahwa mereka berpacaran cukup lama yaitu dari awal masuk kelas 2 SMA,  di umur 17 tahun, hingga lulus dan kerja. Kebetulan AJ ini tidak melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, hanya sampai SMA saja. Ia mengungkapkan, bahwa melakukan hubungan suami istri menjadi tantangan tersendiri ketika melakukannya sebelum menikah, jika dibandingkan dengan setelah menikah yang menjadi hal biasa-biasa saja. Meski awalnya Ia sempat takut untuk melakukan hal itu, namun akhirnya ia luluh juga dan menyanggupi permintaan pacarnya yang kini menjadi suaminya. Ia merasa terlanjur nyaah kepada pacarnya itu, bagaimana tidak, RA sang pacar telah mengorbankan segalanya demi dirinya (AJ). Pada saat dirinya tidak sanggup untuk melunasi biaya akhir sekolah yang merupakan salah satu syarat wajib agar mendapatkan ijazah, RA lah yang membantu. AJ mengatakan bahwa RA melakukan kewajiban-kewajiban layaknya seperti seorang suami ketika mereka berpacaran, dari mulai memberikan uang saku yang cukup besar, antar jemput sekolah, membelikan ini dan itu, bahkan setelah lulus sekolah dan dirinya harus mencari pekerjaan pun, RA lah yang mengurus segala keperluannya.

Hal-hal yang tak diperhatikan oleh orang tuanya seperti ongkos bolak-balik, biaya untuk lamaran pekerjaan, semua ia dapatkan dari RA. RA sampai rela kerja pontang-panting, minjam uang kesana kemari untuk menebus ijazahnya. Hati siapa yang takkan tersentuh melihatnya. AJ juga menambahkan jika ia merasa bersalah ketika ia tak memberi apa yang diminta oleh RA. Belum lagi ia mendengar cerita-cerita dari teman-temannya semasa SMA yang memang telah melakukan hal tersebut dengan pacarnya. Maka, semakin tergodalah Ia, AJ pun tak menampik jika ia bisa melakukan hal tersebut karena nafsu. Apalagi menurutnya, setelah yang pertama, yang selanjutnya itu telah menjadi kebiasaan, dan rasanya ada yang kurang ketika tidak melakukannya setiap bepergian berdua dengan RA.

            Penulis sempat bertanya di mana ia melakukan hal tersebut, ia menjawab banyak tempat yang bisa digunakan untuk melakukannya, misalnya saja di Lembang, di sana tersedia tempat yang memang khusus untuk itu. Biaya sewanya 125rb per 12 jam. Atau setelah ia pulang clubbing, karna tak mungkin pulang di tengah malam. Secara lisan RA memang tak pernah mengungkapkan keinginannya langsung, tapi AJ tahu, ketika ia diajak berduaan dengan RA pasti arahnya ke sana.
Ketika penulis bertanya apa alasan RA melakukan hal tersebut ia menjawab, justru karena merasa sayang kepada AJ, ia ingin melakukan hal seperti itu. Hubungan suami istri menjadi bentuk kasih sayang di antara keduanya.

Sementara itu, ketika mengetahui bahwa ia hamil, tak sedikitpun di benaknya terbesit keinginan untuk menggugurkan kandungannya. AJ sadar, bahwa lambat laun, kegiatannya yang telah dilakukan sedari ia lulus SMA itu akan berakhir seperti ini. Namun ia tidak menyalahkan siapapun, Ia hanya diam dan berkata pada RA, begitupun dengan RA yang memang akan bertanggung jawab dengan menikahinya.Yang sempat mengetahui bahwa ia hamil adalah ibunya, namun ibunya hanya menanyakan ia hamil atau tidak, karena melihat putrinya yang muntah-muntah terhadap bau-bauan. Ayahnya pun sempat mencurigai dirinya hamil, namun hal itu dibantah ibunya. Sementara AJ hanya diam. Tak berkomentar. Ketika ia ditanya oleh orang tuanya kenapa ingin cepat-cepat menikah, ia hanya menjawab ingin menikah muda sesuai dengan targetnya yaitu 20-21 tahun. Ayahnya baru mengetahui AJ hamil ketika sang perias pengantin memberitahunya. Meski awalnya Ayahnya sempat mengeluh, dan berkata bahwa takkan mengadakan pesta besar-besaran kalau saja ia tahu AJ hamil duluan.Reaksi mertua AJ, ternyata tak sesuai bayangan, ketika ibu mertuanya tahu bahwa mereka menikah karena hamil duluan, Ibu mertuanya berkata, andai ia tahu lebih awal, ia akan menyuruh AJ untuk menggugurkan kandungannya. AJ bahkan menyaksikan ibu mertuanya memukul RA ketika mengetahuinya. Ibu mertuanya merasa begitu malu sekali, bahkan untuk syukuran tujuh bulanan, ia tak mau melakukannya. Namun, ayah mertuanya lah yang tetap ingin melaksanakan adat itu, baginya bagaimana pun anak dalam kandungan AJ tetaplah darah daging putranya dan harus disyukuri.
Pernikahannya yang dilaksanakan pada bulan februari lalu, memang dirasakan mendadak oleh teman-temannya, yang juga merasa aneh dengan pernikahan dadakan tersebut. Penulis yang merupakan salah satu teman yang menjadi pagar ayu di acara pernikahannya, sempat merasa kaget dengan apa yang dialaminya. Namun, disisi lain, banyak hal yang bisa menyebabkan Ia melakukan hal tersebut. Salah satu faktor yang memang klise namun tetap tak dapat dipungkiri adalah masalah keluarga. Keluarga adalah sekolah yang pertama dan utama bagi setiap orang. Ketika keluarga tak bisa menjadi sandaran dan panutan yang tepat bagi anak-anaknya, maka anak tersebut akan mencari kebahagiaan di lingkungan luar. Pada kasus AJ contohnya, keluarganya memang keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, selain itu penerapan ilmu agama yang kurang juga turut memengaruhinya. Orang tua yang cenderung membebaskan anaknya untuk pergi kemanapun yang ia sukai, memberikan dampak negatif. Lingkungan sekolah dan lingkungan pekerjaan juga memengaruhi.

Terlepas dari itu semua, namun banyak hal yang dapat dipetik, AJ dan RA adalah salah satu contoh kasus untuk hamil di luar nikah, terlepas dari dosa atau tidaknya dari apa yang mereka lakukan, banyak hal yang perlu digarisbawahi. AJ yang harus menanggung beban ketika ia hamil, dari  mulai cemoohan dan berbagai gunjingan dari para tetangga, tak bisa bebas kemanapun yang ia inginkan karena telah mengandung, juga harus menyembunyikan kandungannya dari semua orang. Banyak hal-hal yang tak terduga darinya. Namun, Ia termasuk salah seorang perempuan yang tangguh. Ia berani menanggung resiko tanpa mengeluh.Kini ketika ia telah dihadapkan pada keharusan menjadi seorang ibu. Di tengah krisis ekonomi terkadang ia harus mengurus anaknya sendirian, termasuk mengurus keluarganya yang trerdiri dari ayah dan keempat orang adiknya, karena ibunya terlibat kasus yang menyebabkan ia harus dipenjara. Ia tak hanya berperan sebagai ibu bagi anaknya, namun juga sebagai kakak yang harus mengurusi adiknya, belum lagi ia harus bertindak sebagai menantu yang baik.

Seorang teman mungkin akan merasa sedih dan kecewa. Ketika mengetahui temannya seperti itu. Namun sebagai teman, sejatinya berusaha menguatkannya dan memperlakukannya seperti biasa saja dan seperti tak pernah terjadi apa-apa. Karena di masa kesulitannya itu, ia membutuhkan sandaran, yaitu teman yang bisa diajaknya bicara, meluapkan kekesalannya, tempat keluh kesahnya sebagai seorang ibu, dan seorang istri. Pada akhirnya AJ berkata : “segala sesuatunya memang tidak bisa dirubah, dan yang sudah terjadi ya terjadilah. Nasi memang sudah menjadi bubur, namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi, bukan meratapi.”*) Risca Olistiani, NIM 0909216







Tidak ada komentar:

Posting Komentar